Masyarakat Bugis Bone memiliki macam jenis badik khas. Namun, yang paling dikenal dan disakralkan di Bone adalah badik jenis gecong. Badik ini dahulunya hanya digunakan oleh seorang raja atau bangsawan. Badik gecong adalah badik Raja Bone yang paling disakralkan dan hampir di setiap acara adat masyarakat Bone, badik gecong selalu hadir dalam rangkaian diantaranya pencucian badik pusaka raja Bone maupun acara tradisi tolak bala di Bone, Badik gecong, menurut Nasir, akrab disebut oleh masyarakat Bugis Bone dengan nama kawali. Badik ini asalnya dari daerah bagian selatan Kabupaten Bone yang disebut Kampung Kajuara. Berdasarkan cerita dan keyakinan masyarakat Kajuara, imbuh dia, badik gecong milik raja tersebut dibuat langsung oleh makhluk halus dan pembuatannya pun di malam hari. Orang di Kajuara, Bone percaya badik raja (gecong) dibuat oleh makhluk halus. Di mana pada malam hari pembuatannya hanya didengar suara palu yang terus berbunyi bertalu-talu hingga jelang pagi. Paginya itu badik sudah jadi. Badik gecong, Nasir menambahkan, ukurannya hanya berkisar 20-25 sentimeter. Adapun cirinya mirip sama dengan badik khas suku Makassar yang bernama badik Lompo Battang (perut besar). Hanya saja, bilahnya agak membungkuk, di mana hulunya agak kecil dan melebar selanjutnya bagian ujung sangat meruncing. Pada umumnya, badik gecong yang pada masa lalu hanya digunakan oleh raja maupun bangsawan suku Bugis Bone tersebut berbahan besi dan bajanya berkualitas tinggi serta mengandung meteorit yang tampak menonjol pada permukaannya. "Badik gecong ini mempunyai pamor yang disebut oleh masyarakat Bugis sebagai timpalaja atau mallasoancale yang letaknya dekat hulunya. Bahannya pun dari besi baja yang berkualitas tinggi serta mengandung meteorit yang menonjol di permukaan," Nasir menjelaskan.